Fir Tree

Just About Fir Tree

Popular Uses

Fir trees are often stereotyped as a Christmas-only accessory. However, the tree offers several other uses including:

Wood: Fir tree wood can be used for frames and other smaller scale wood projects that don’t call for an extremely durable wood.

Pulp: The timber from the tree is made into wood pulp.

Mulch: Old Fir trees that have been tossed out after Christmas are often pulverized and used as mulch.

Stuffing: Chopped up Fir wood is used to stuff pillows and mattresses in some parts of the world.

Fragrance: Oils from Fir trees are extracted and used in commercial products labeled “pine scented”.

If you are looking to add a Fir to your yard, but don’t want to deal with shedding during periods of drought, then select the Balsam Fir which maintains its needles despite lack of water.

 

Source : http://www.2020site.org/trees/fir.html

Where the Fir Grows

True Fir trees are found throughout the world, but thrive best in the mountains of:

North America
Europe
Asia
North Africa

In the United States Fir trees prosper in:

Alaska
Washington
Oregon
Idaho
Maine
Rhode Island
Massachusetts
Connecticut
New York

The trees prefer high elevations where they can grow in cool, moist, well-drained soil. Fir trees also need plenty of water and full sunlight to prosper.

 

Source : http://www.2020site.org/trees/fir.html

Fir Tree Types

The Abies genus grows in mountainous areas with other evergreen conifers. However, not all Fir trees are true Fir trees. For example, while it may bear some resemble to other members of the Abies family, the Douglas Fir is not a true Fir; rather, it hails from the genus Pseudotsuga.
Among the most popular true Fir trees are:

1. Balsam Fir: The Balsam is especially popular in North America where it is considered a top-selling Christmas tree. This type of Fir is also prized by landscapers who use it as an ornamental tree in both large and small spaces. In the wild, the Balsam can reach heights exceeding 50 feet with a spread of 30 feet.
2. Alpine Fir: Also known as the Rocky Mountain Fir, the tree is narrow and shaped like a steeple. Alpines can withstand severe cold and grow up to 90 feet tall. The tree features blue-green needles, which grow on branches that can be pruned to a manageable density.
3. Siberian Fir: This type of Abies is among the largest Firs in the world, growing to heights that top 90 feet tall. The triangular-shaped tree features fragrant greenish-gray needles and can withstand temperatures to minus 50 degrees Fahrenheit.

Most Fir trees have shallow root systems which make them highly susceptible to wind damage. If you are planning to add a Fir to your landscape as an ornamental tree, you will have to provide it with protection from the wind, especially if the ground it is planted in experiences excessive moisture.

 

Source : http://www.2020site.org/trees/fir.html

Appearance of Fir Tree

1. Leaves: Fir trees have needles instead of traditional leaves. The smooth, flexible needles are short, flat and stick up like toothbrush bristles and remain green year-round.

2. Branches: The branches grow in whorls around the tree’s trunk to form a pyramid-like shape. The Fir’s cones hang from the branches.

3. Cones: Taking on a cylinder to oval-like shape, the Fir tree’s cones are brown and spiky. On some types of Firs the cones collect in dense clusters while others appear sporadically on the branches.

4. Bark: Young trees feature a smooth, thin bark, while older Firs have a thick, furrowed bark with deep ridges.

Source : http://www.2020site.org/trees/fir.html

Indikator Memburuknya Perubahan Iklim, Satu Jenis Cemara Terancam Punah

Dampak perubahan iklim tidak hanya berpengaruh pada ekosistem laut yang merasakan secara langsung. Perubahan iklim juga diyakini telah mempengaruhi ekosistem daratan pada umumnya dan hutan khususnya, meski masih ada sebagian yang menyangkalnya demi kepentingan sendiri.

Hal ini terungkap pada sebuah hasil penelitian, seperti yang dikutip MSNBC, yang dilakukan oleh Paul Schaberg bersama koleganya dari U.S Forest Service, sebuah badan di bawah naungan departemen pertanian Amerika Serikat yang berfungsi mengatur pemanfaatan lahan hutan dan dataran untuk keperluan publik.

Hasil penelitian badan tersebut mendapati bahwa salah satu jenis cemara kuning yang hanya tumbuh di wilayah-wilayah tertentu di belahan bumi ini telah mengalami penurunan dalam jumlah yang besar.

Penelitian tersebut mengambil data di beberapa wilayah, antara lain Alaska bagian tenggara dan British Columbia. Diperkirakan sekitar kurang lebih habitat seluas 202.500 hektar cemara kuning di Alaska tersebut menghilang, sedangkan tidak kurang dari 49.815 hektar tanaman tersebut telah hilang.

Menurut Paul Schaberg, menghilangnya pepohonan tersebut telah dimulai sejak lima puluh tahun terakhir, yang ditandai juga dengan berkurangnya intensitas salju yang turun. Bagi pohon tersebut, salju merupakan sumber air sekaligus melindungi permukaan tanah dari kekeringan. Cemara kuning adalah jenis cemara yang memiliki akar yang merambat di bawah permukaan tanah.

Masih menurut ilmuwan tersebut, cemara kuning adalah termasuk jenis pohon yang luar biasa. Umurnya bisa mencapai 1.000 tahun, tahan terhadap hama, pembusukan dan melindungi dirinya dari terluka. Jadi jika terjadi hilangnya pepohonan dari habitatnya, maka penyebabnya pastilah berada di luar kemampuan pohon itu sendiri untuk mengatasinya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, intensitas salju diperkirakan telah mulai menurun sejak 50 tahun lalu. Menurut hasil penelitian ini, turunnya intensitas salju tersebut tidak lain merupakan salah satu dampak yang diakibatkan perubahan iklim.

Kondisi ini jelas memprihatinkan. Pasalnya, seperti diketahui, hutan dengan pepohonan di dalamnya merupakan salah satu “pasukan” yang bertugas mengendalikan karbon dioksida. Tetapi dengan terjadinya menurunnya intensitas salju yang berimbas pada ketidaksanggupan cemara kuning untuk hidup, maka jumlah “pasukan” tersebut akan berkurang. Akibatnya sudah pasti, semakin sedikit karbon dioksida yang bisa dikendalikan.

Apa yang terjadi pada cemara kuning yang hidup di daerah subtropis tertentu, bisa jadi hanya sebagian gambar kecil dari sebagian besar ketidakmampuan flora dalam mengantisipasi perubahan iklim yang sedang berlangsung, meski sempat dilaporkan bahwa beberapa jenis pohon di hutan tropis justru tumbuh lebih besar dari sebelum-sebelumnya dengan kemampuan menangkap karbon lebih banyak.

Cemara Pinsil

Cupressus sempervirens atau yang dikenal dengan cemara pinsil adalah jenis cemara asli wilayah mediterania. Cemara ini termasuk dalam famili Cupressaneae. Daunnya tumbuh padat dan rimbun dengan warna hijau gelap. Kayunya wangi dan kuat. Pintu Gereja Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan, Roma menggunakan kayu pohon cemara ini.
Cypress Mediterania, Cypress Tuscan, merupakan nama lainnya, telah banyak di budidayakan sebagai pohon hias selama ribuan tahun. Di New Mexico, Cypress Mediterania juga dikenal sebagai “drama tree” karena bentuknya yang cenderung membungkuk ketika angin bertiup  bahkan hanya sepoi-sepoi. Bangsa Yunani kuno dan Romawi selalu menyertakan cemara ini dalam setiap upacara pemakaman dengan membawa dahan-dahannya untuk menghormati jasad orang yang meninggal.
Sempervirens berasal dari bahasa latin yang berarti hijau.  Dibandingkan dengan jenis cemara yang lain, Cemara ini lebih toleran terhadap kondisi yang kering meskipun juga tumbuh baik di daerah dingin dan lembap. Di Florida pohon ini ditanam sebagai pohon hias.

Cemara Norfolk

Cemara Norfolk pertama kali di temukan di Pulau Norfolk, sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik, tahun 1774. Seringkali jenis cemara ini disebut ‘bintang pinus’. Pohonnya tumbuh hinggga ketinggian 50 – 65m dan memiliki penampilan yang khas:  banyak cabang simetris  berbentuk seperti jarum tumpul dan membentuk garis segitiga hingga ke atas.
Seiring dengan pertumbuhannya, Norfolk bertambah tinggi, terlihat tidak simetris, dan cabang-cabang di bagian terendahnya akan berwarna cokelat, serta berguguran.
Cemara Norfolk (Araucaria heterophylla)  termasuk dalam keluarga Araucariaceae, suatu tanaman kuno yang memiliki 3 genus utama (Agathis, Araucaria, dan Wollemia) yang memiliki 41 spesies. Cemara Norfolk termasuk dalam genus Araucaria.
Tanaman ini dapat diperbanyak dengan cara mencangkok batangnya yang masih muda. Apabila telah keluar akar dari bekas sayatan pada cangkokan, maka batang dapat dipotong, dan kemudian ditanam di tanah.
Jenis cemara ini tumbuh subur pada iklim  dingin dengan kelembaban tinggi serta terkena sinar matahari langsung. Selain sebagai  tanaman hias atau pohon natal, Cemara Norfolk menghasilkan resin yang dapat dipergunakan untuk bahan pembuat produk kosmetika. Kayunya yang sudah tua juga dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Cemara Norfolk seringkali juga digunakan sebagai Pohon Natal hidup dalam ruangan karena memberikan kesan indah. Sejumlah besar Norfolk Island Pines diproduksi di Florida Selatan untuk industri houseplant.

Cemara Kipas

Thuja occidentalis adalah jenis pohon cemara dari keluarga Cupressaceae dengan genus Thuja yang dikenal dengan nama Whitecedar. Di Indonesia dikenal dengan nama Cemara Kipas, meskipun ada juga yang mengistilahkan Cemara Kipas untuk jenis tanaman cakar ayam.
Cemara Kipas lebih menyukai kondisi lingkungan yang lembap. Ia tumbuh secara alami di hutan basah terutama di rawa-rawa dengan ketinggian 10–20 meter.  Cabang daunnya mengerucut ke samping, bersisik, dan membentuk kipas. Hewan rusa sangat menyukai tekstur daunnya yang lembut.
Tanaman ini pertama kali diidentifikasi sebagai obat kudis oleh suku Indian asli di Kanada pada abad ke-16 . Thuja occidentalis juga digunakan untuk mengobati penyakit selesma bronkial, enuresis, cystitis, psoriasis, karsinoma uterus, amenore dan rematik . Kayunya  secara komersial digunakan untuk membuat pagar, tiang, atau untuk membuat perahu.
Cemara Kipas kemudian dibudidayakan sebagai tanaman hias pertama kali di Eropa, terutama sebagai tanaman pengisi taman.

Macam Macam Pohon Cemara

No. Nama Indonesia Nama Latin Gambar
 1. Cemara Angin Casuarina equisetifolia
 2. Cemara Duri Juniperus rigida
 3. Cemara Embun Casuarina equisetifolia  
 4. Cemara Laut Casuarina equisetifolia  
 5. Cemara Norfolk Araucaria heterophylla  
 6. Cemara Pinus Casuarina cunninghamiana  
 7. Cemara Pua Pua Juniperus chinensis  
 8. Cemara Putih Casuarina equisetifolia  
 9. Cemara Udang Casuarina equisetifolia  
10. Cemara Pinsil Cupressus sempervirens  
11. Cemara Kipas Thuja occidentalis  
12. Cemara Balon Casuarina nobillis  

Pohon Cemara Sebagai Lambang Natal

Pohon natal menjadi lambang perayaan Hari Natal. Dan pohon natal adalah pohon cemara, atau pohon sejenis yang bentuknya mengerucut mengecil ke atas. Mengapa menggunakan pohon cemara ?

Semua berasal dari kebudayaan kuno di Eropa, tepatnya Jerman pada abad ke 16, dimana akhirnya kebudayaan tersebut bergerak pula menyebar ke Amerika dan ke seluruh dunia. Dan mengapa pohon cemara yang kalau ditelusuri tidak ada hubungannya dengan natal itu sendiri? Jawabannya hanya karena pada saat natal tiba, di Eropa yang mengalami musim dingin (salju), hanya pohon cemara yang selalu tampak hijau daunnya. Sedangkan pohon-pohon lainnya rontok berguguran. Jadi, pohon cemara itu melambangkan evergreen, hidup kekal. Dimana makna simbolisnya adalah agar kehidupan rohani kita selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain.

Lantas adakah hubungan pohon cemara dengan Hari Natal atau hari kelahiran Yesus? Tidak ada sama sekali. Pohon cemara bukan mengidentikan dengan kelahiran Yesus, tetapi mengidentikan dengan perayaan musim, perayaan keluarga. Dan dalam aturan gerejapun, tidak ada keharusan untuk memasang pohon natal baik di gereja ataupun di rumah.

Mengapa pohon natal dihias secara gemerlap? Ini sebetulnya mengadaptasi kisah Martin Luther yang terkesan menyaksikan keindahan bintang-bintang di langit yang gemerlap sinarnya menembus dahan-dahan pohon, saat dia berjalan di hutan cemara. Dia kemudian menebang sebatang pohon cemara dan membawanya pulang kerumah. Dan untuk membuat efek gemerlapan, dia memasang lilin – lilin di tiap cabangnya. Maka dari sana lahirlah tradisi yang menjadi awal industri natal.